Selasa, 10 Maret 2015

Hujan

Ketika matahari mulai menutupi wajahnya, menutup dengan cadar awannya, membuat langit gelap tanpa sinarnya.
Seperti itulah mungkin cara Tuhan mengistirahatkan ciptaannya, menggantikan dengan gelap awan tanpa sinar, meski malam belum datang menggantikan.

Mulailah awan menurunkan hujannya,
Petir meneriakkan gemuruhnya,

Membuatku hanyut dalam ingatan, menepi pada kenangan.
Aku terdiam dalam lamunan, juga terbuai dalam renungan.

Merasakan hadir mu yang duduk bersebelahan,
Bersama sama menikmati hujan,
Bersama sama terlena pada kebahagiaan.

Pikirku ini akan ku tuliskan pada barisan sajak sebagai kenangan,
Yang akan selalu ku ingat dalam ingatan,
Dan akan ku eja saat rindu datang.
Namun, sebelum itu, petir berteriak keras, memekakkan telinga ku, sehingga aku tersadar bahwa aku tak lagi bersamamu,
Entahlah,,serasa semua menghilang, serasa kini aku benar-benar dalam keseorangan.
Dan ternyata, itu semua hanyalah bayangan semu, yang terbentuk dari khayalan yang melebihi batas imajinasi ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar