MASA LALU
Dimana sepenggal waktu pernah bercerita,
Mengisahkan skenario Tuhan dengan indahnya,
Ya, kita berdua pemerannya,
Dan Tuhan sebagai sutradaranya.
Berawal dari pertemuan,
Yang berujung dengan perpisahan.
Berawal dari saling menemukan,
Yang berujung saling melupakan.
Yang terbiasa dengan kebersamaan,
Kini jadi saling hidup sendiri dalam keseorangan.
Yang terbiasa bercanda tawa,
Kini jadi saling diam tak berkata.
Yang dulu saling mencintai,
Kini saling melukai.
Janji kita berdua, untuk selalu ingat akan kenangan indah bersama,
Namun apa ingkarnya?
Malah kita saling berjuang menghapus segala kenangan.
Ucap kita berdua, bersyukur dan beruntung dengan adanya pertemuan.
Namun apa sekarang?
Saling menyesal tlah dipertemukan.
Semua kenangan itu, yang kita tuliskan pada setiap baris lembaran sajak,
Yang akan selalu kita ingat hingga jantung tak berdetak,
Yang akan selalu kita bawa dimanapun kita berpijak.
Namun sekarang,
Dibiarkan tertutup debu usang,
Bahkan akan sengaja dibuang,
Hingga semua hilang tak berbekas rindu,
Yang hanya akan dikenang sebagai
M A S A L A L U
Minggu, 15 Maret 2015
Selasa, 10 Maret 2015
Hujan
Ketika matahari mulai menutupi wajahnya, menutup dengan cadar awannya, membuat langit gelap tanpa sinarnya.
Seperti itulah mungkin cara Tuhan mengistirahatkan ciptaannya, menggantikan dengan gelap awan tanpa sinar, meski malam belum datang menggantikan.
Mulailah awan menurunkan hujannya,
Petir meneriakkan gemuruhnya,
Membuatku hanyut dalam ingatan, menepi pada kenangan.
Aku terdiam dalam lamunan, juga terbuai dalam renungan.
Merasakan hadir mu yang duduk bersebelahan,
Bersama sama menikmati hujan,
Bersama sama terlena pada kebahagiaan.
Pikirku ini akan ku tuliskan pada barisan sajak sebagai kenangan,
Yang akan selalu ku ingat dalam ingatan,
Dan akan ku eja saat rindu datang.
Namun, sebelum itu, petir berteriak keras, memekakkan telinga ku, sehingga aku tersadar bahwa aku tak lagi bersamamu,
Entahlah,,serasa semua menghilang, serasa kini aku benar-benar dalam keseorangan.
Dan ternyata, itu semua hanyalah bayangan semu, yang terbentuk dari khayalan yang melebihi batas imajinasi ku.
Seperti itulah mungkin cara Tuhan mengistirahatkan ciptaannya, menggantikan dengan gelap awan tanpa sinar, meski malam belum datang menggantikan.
Mulailah awan menurunkan hujannya,
Petir meneriakkan gemuruhnya,
Membuatku hanyut dalam ingatan, menepi pada kenangan.
Aku terdiam dalam lamunan, juga terbuai dalam renungan.
Merasakan hadir mu yang duduk bersebelahan,
Bersama sama menikmati hujan,
Bersama sama terlena pada kebahagiaan.
Pikirku ini akan ku tuliskan pada barisan sajak sebagai kenangan,
Yang akan selalu ku ingat dalam ingatan,
Dan akan ku eja saat rindu datang.
Namun, sebelum itu, petir berteriak keras, memekakkan telinga ku, sehingga aku tersadar bahwa aku tak lagi bersamamu,
Entahlah,,serasa semua menghilang, serasa kini aku benar-benar dalam keseorangan.
Dan ternyata, itu semua hanyalah bayangan semu, yang terbentuk dari khayalan yang melebihi batas imajinasi ku.
Serpihan Kenangan
Saat semua tlah berlalu
Yang tersisa hanyalah simpanan kenangan dalam kalbu
Terus berkumpul bertumpuk memburu
Yang suatu saat nanti akan diketuk oleh rindu
Mungkin akan membuatku tertangis haru
Mungkin akan membuatku tersenyum sipu
Hanya ingatan yang terus membaris kenangan
Hanya khayalan yang hangat dalam harapan
Kenangan demi kenangan itu
Suatu saat akan ku eja satu per satu
Akan ku alirkan pada sajak yang berpadu
Yang tersisa hanyalah simpanan kenangan dalam kalbu
Terus berkumpul bertumpuk memburu
Yang suatu saat nanti akan diketuk oleh rindu
Mungkin akan membuatku tertangis haru
Mungkin akan membuatku tersenyum sipu
Hanya ingatan yang terus membaris kenangan
Hanya khayalan yang hangat dalam harapan
Kenangan demi kenangan itu
Suatu saat akan ku eja satu per satu
Akan ku alirkan pada sajak yang berpadu
Minggu, 08 Maret 2015
Mengagumi tanpa memiliki, Mencintai tanpa mengungkapkan
Saat aku mendongakkan kepala,
berdiri di depan mu yang lebih tinggi dari ku.
Tampak jelas terlihat sepasang mata yang begitu indahnya,
seperti saat melihat gemerlap bintang yang sedang bersinar,
seolah aku tak perlu malam untuk melihat bintang.
Tampak jelas terlihat senyum yang terlukis di bibir mu,
seperti saat melihat bulan sabit yang sedang bercahaya dengan sinar keemasannya,
seolah aku tak perlu menunggu waktu dimana bulan sabit akan terbentuk.
Tapi seperti bintang yang terdiam dalam kesunyian malam, seperti itulah aku mencintaimu dalam diam.
Juga seperti bulan yang bersinar dalam heningnya malam, menyinari mu, namun tak lebih berarti untukmu. mencintaimu, namun tak bisa memilikimu.
Entahlah cinta ini datang tanpa permisi,
aku pun tak menduganya.
Cinta ini datang ketika kau mencintai orang lain,
bahkan kau sudah menggandengnya, menyatukan hatinya dengan hatimu.
Membuka lembaran kebahagiaan juga kenangan baru bersama.
Lalu untuk apa cinta ini datang? untuk apa aku mencintaimu? jika saja dirimu bukan untukku..
berdiri di depan mu yang lebih tinggi dari ku.
Tampak jelas terlihat sepasang mata yang begitu indahnya,
seperti saat melihat gemerlap bintang yang sedang bersinar,
seolah aku tak perlu malam untuk melihat bintang.
Tampak jelas terlihat senyum yang terlukis di bibir mu,
seperti saat melihat bulan sabit yang sedang bercahaya dengan sinar keemasannya,
seolah aku tak perlu menunggu waktu dimana bulan sabit akan terbentuk.
Tapi seperti bintang yang terdiam dalam kesunyian malam, seperti itulah aku mencintaimu dalam diam.
Juga seperti bulan yang bersinar dalam heningnya malam, menyinari mu, namun tak lebih berarti untukmu. mencintaimu, namun tak bisa memilikimu.
Entahlah cinta ini datang tanpa permisi,
aku pun tak menduganya.
Cinta ini datang ketika kau mencintai orang lain,
bahkan kau sudah menggandengnya, menyatukan hatinya dengan hatimu.
Membuka lembaran kebahagiaan juga kenangan baru bersama.
Lalu untuk apa cinta ini datang? untuk apa aku mencintaimu? jika saja dirimu bukan untukku..
Langganan:
Postingan (Atom)